Makalah Agama
"PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN
ISLAM MODERN"
Disusun
Oleh :
KELOMPOK
2
Bani
Arjuwati
Nurfajri
Triyendra
Syaijiba
Fazkia Fitri
Tiara Putri Tasya
Teguh
Gema Genta
Viona
Ganesha
Pembimbing:
Dra.Arsiah
S.Ag
SMA
N 1 KOTA SOLOK
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
………………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
.................................................................................................................
B.
Tujuan
..............................................................................................................................
BAB
II TEORI PEMBAHASAN
A.
Awal
babakan baru kebudayaan islam modern ………………………………………..
B.
Kemunduran negara –
Negara islam…………………………………………………..
C.
Kebangkitan Negara –
Negara islam periode modern ………………………………..
D.
Fase runtuhnya tiga
kerajaan islam …………………………………………………..
1.
Kemunduran dan
kehancuran kerajaan safawi ……………………………….
2.
Kemunduran dan
runtuhnya kerajaan mughal ……………………………….
3.
Kemunduran dan kehancuran
kerajaan turki usmani ………………………..
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan
...................................................................................................................
B.
Saran
.............................................................................................................................
Daftar
Pustaka
.........................................................................................................................
KATA
PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul "perkembangan kebudayaan islam pada masa modern" dan
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas
agama serta untuk mempersentasikan kebudayaan islam pada masa modern.
Semua bantuan dan kerja sama yang telah
diberikan agar mendapat balasan yang setimpal dari Allah. Penulis menyadari
karya ilmiah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi
penyempurnaan karya ilmiah ini dimasa yang akan datang.
Terakhir peneliti mengucapkan terima
kasih semoga tulisan atau karya ilmiah ini dapat bermamfaat bagi peneliti dan
pembacanya.
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Makalah ini dibuat untuk melengkapi
tugas agama serta untuk mempersentasikan perkembangan kebudayaan islam pada
masa modern. Makalah ini juga dilatarbelakangi untuk memenuhi pembelajaran agam
untuk memperluas pengetahuan mengenai perkembangan kebudayaan islam pada masa
modern.
2.
Tujuan
Secara
garis besar, makalah ini akan membahas bagaimana pekembangan islam modern,yang
akan diterangkan dengan poin – poin sebagai berikut :
1.
Awal
babakan baru kebudayaan islam modern
2.
Kemunduran negara –
Negara islam
3.
Kebangkitan Negara –
Negara islam periode modern
4.
Fase runtuhnya tiga
kerajaan islam
a.
Kemunduran dan
kehancuran kerajaan safawi
b.
Kemunduran dan
runtuhnya kerajaan mughal
c.
Kemunduran dan
kehancuran kerajaan turki usmani
BAB II
PEMBAHASAN
A. AWAL
BABAKAN BARU KEBUDAYAAN ISLAM MODERN
Masa
kebangkitan umat Islam pada periode modern dimulai pada sekitar abad ke-19 atau
sekitar tahun 1800 M, yang ketika itu sebagian besar bangsa-bangsa Eropa sedang
mendominasi di dunia. Pada abad ke-19 dan awal abad ke 20, dikarenakan oleh
kebutuhan ekonomi industri terhadap bahan baku dan pemasarannya, serta
kompetisi politik dan ekonomi satu sama lain, maka Negara-Negara Eropa
mendirikan kerajaan territorial. Pertumbuhan poduksi pabrik perubahan pada skala yang besar serta dengan
menggunakan metode komunikasi dan kekuatan angkatan bersenjatanya,
Negara-negara Eropa siap melakukan ekspansi perdagangan. Negara Aljazair
merupakan negara pertama yang ditaklukan oleh salah satu negara Eropa, yaitu
Perancis pada tahun 1830-1847. Kerajaan Usmani, yang merupakan salah satu
negeri Islam dan masyarakat serta kebudayaannya pada waktu itu tidak hidup
dalam keadaan stabil, sehingga sehingga keperluan mereka yang mendesak adlah
bagaimana menggerakkan kekuatan agar selamat dari dominasi bangsa lain.
Agama dan kebudayaan baru hukum islam terus
dipertahankan, pemikiran barupun semakin bermunculan yang mencoba menjelaskan
sebab- sebab kekuatan Eropa, disamping itu juga menghimbau agar mengadopsi
ide-ide Eropa tanpa kehilangan dan identitas diri. Yang sebagian itu diekspresikan oleh para lulusan sekolah
yang dibangun oleh pemerintah baru tersebut atau misionaris asing melalui media
massa seperti surat kabar ataupun jurnal. Setelah kemunduran kerajaan Usmani,
terangkatlah perekonomian sarta penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi Negara-negara Eropa. Sementar itu kemerosotan kaum muslimin tidak terbatas
dalam bidang ilmu dan kebudayaan saja, tetapi juga di berbagai bidang. Dalam
perkembangan selanjutnya Negara-negara Eropa banyak menguasai daerah-daerah
Islam.
B. KEMUNDURAN
NEGARA-NEGARA ISLAM
Eropa di awal kebangkitannya menghadapi banyak
sekali tantangan, terutama dari Negara-negara islam, terutama kerajaan Usmani
yang berpusat di Turki. kemudian setelah beberapa tahun Negara-negara Eropa
menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur
lama yang di kuasai Islam bidang perekonomian bangsa- bangsa Eropa semakin maju
dengan dibukanya daerah-daerah baru. Mulailah kemudian kemajuan
negara-negara Eropa melampaui kemajuan Negara-negara Islam yang sejak lama
menagalami kemunduran. Dan kemajuan yang diperoleh oleh negara -negara Eropa
tersebut dipercepat dengan penemuan-penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Satu
demi satu Negara-negara Islam pun jatuh dibawah kekuasaan Negara-negara Eropa.
Terutama negeri-negeri yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi
meskipun Kerajaan Usmani telah banyak kehilangan wilayahnya, Negara-negara
Eropa masih segan dan dipandang cukup kuat dalam bidang militernya. Namun
kekalahan besar Kerajaan Usmani tahun 1683, membuka mata bahwa Kerajaan Usmani
telah mundur jauh sekali. Sejak itulah kerajaan Usmani banyak mendapat serangan
dari Negara-negara Eropa. Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami
kemajauan setelah penghalang pembaharuan, yaitu Yenissari dibubarkan oleh
Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada tahun 1826. Dan struktur kekuasaan kerajaan
dirubah, banyak lembaga pendidikan modern didirikan, buku – buku barat banyak
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, dan pengiriman siswa berbakat ke
Eropa, serta pendirian sekolah militer. Perubahan tersebut tidak hanya dilakukan
di dalam Kerajaan Usmani saja tetapi juga di berbagai negara yang telah di
kuasai oleh Negara-negara Eropa. Misalnya saja di negara Mesir, di Kairo yang
merupakan ibukota negara Mesir sepeninggalan tentara Perancis, kekuasaan
diambilalih oleh Muhammad Ali (1805 – 1848) seorang yang berkebangsaan Turki dari
Macedonia yang dikirim oleh Kerajaan Usmani untuk melawan Perancis. Dia sendiri
mengumpulkan kekuatan penduduk kota,
Dari uraian diatas, telah jelas bahwa negara-negara Islam
pada abad ke-19 dan ke-20 hampir seluruhnya berada di bawah koloni
negara-negara Eropa, kecuali Hijaz, Persia, dan Afganistan. Sedangkan
negara-negara di wilayah timur khususnya Afrika bagian Timur dan Asia oleh
negara-negara Eropa dijadikan sebagai lahan untuk diambil bahan bakunya untuk
industri. Tetapi tidak nampaknya negara Spanyol dan Portugal dalam ekspansinya
di wilayah Negara-negara Islam mungkin dikarenakan kedua negara ini masih
mengingat peristiwa yang telah terjadi, yakni Perang Salib.
C. KEBANGKITAN NEGARA-NEGARA ISLAM PERIODE MODERN
Ekspansi yang telah dilakukan oleh Negara-negara Eropa
telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka sangat tertinggal jauh dari
Negara-negara Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Negara-negara Eropa bisa menjajah karena keberhasilan mereka menerapkan
sratetegi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mereka miliki. Pada satu sisi
kekuatan militer dan politik Negara-negara Islam menurun, perekonomian yang
merosot yang merupakan akibat dari monopoli perdagangan antara timur dan barat
tidak lagi mereka kendalikan. Di sisi lain Negara-negara Eropa pada waktu yang
sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok
intelektual yang membebaskan diri mereka dari ikatan-ikatan gereja. Sementara
dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka mengalami perkembangan yang cukup
pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika. Usaha yang
dilakukan negara – negara Islam melalui gerakan pembaharuan, didorong oleh
beberapa faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran-ajaran Islam dari
unsure-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan belajar
gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Negara-negara Eropa.
Salah seorang tokoh pemikir gerakan kemerdekaan yang bernama Sayyed Jamaluddin
Al Afghani yang berasal dari Afganistan, ia memperkenalkan hasil pemikirannya
itu yang bernama Pan-Islamisme, yang sebelumnya didengungkan oleh gerakan
Wahhabiah dan Sanisiyah, artinya solidaritas antara seluruh muslim di dunia
internasional. Ajaran inilah kemudian banyak digunakan oleh para pemikir
pembaharuan di dunia Islam. Tetapi gagasan Pan-Islamisme lama kelamaan meredup
setelah terjadinya Perang Dunia I, yang mana pada waktu itu Turki bersekutu
dengan Jerman dan mengalami kekalahan. Maka setelah itu muncullah gagasan baru
yang bernama gagasan nasionalisme. Gagasan ini pada permulaannya banyak
mendapat tentangan dari berbagai pihak dari pemuka-pemuka islam karena tidak
sejalan dengan semangat ukhuwah islamiyah, tetapi setelah itu berkembanglah
gagasan nasionalisme.
Diberbagai negara misalnya, gagasan nasionalisme di Mesir telah tumbuh sejak masa Al Tahtawi (1801-1873) dan Jamaluddin Al Afghani. Tetapi tokoh yang terkenal dalam pergerakan memperjuangklan gagasan ini di Mesir ialah Ahmad Urabi Pasha. Sedangkan di Arab sendiri gagasan nasionalisme Arab segera menyebar dan disambut hangat sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Di India Pan-Islamisme juga tumbuh melalui pelopornya Sed Amir Ali (1848-1928). Namun gagasan ini segera tergantikan oleh gagasan nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme juga segera pudar, ini dikarenakan kaum muslimin ang minoritas tertekan oleh kelompok Hindu ang mayoritas. Maka umat islam di negara India tidak menganut nasionalisme, melainkan islamisme, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komunalisme. Dan di Indonesia partai politik besar yang menentang penjajahan di Indonesia adalah Sarekat Islam didirikan tahun 1912 oleh HOS Tjokroamionoto. Sarekat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhuditahun 1911. Tidak lama kemudian partai-partai politik lainnyapun mualai bermunculan, seperti PNI, PNI Baru, Permi.
Diberbagai negara misalnya, gagasan nasionalisme di Mesir telah tumbuh sejak masa Al Tahtawi (1801-1873) dan Jamaluddin Al Afghani. Tetapi tokoh yang terkenal dalam pergerakan memperjuangklan gagasan ini di Mesir ialah Ahmad Urabi Pasha. Sedangkan di Arab sendiri gagasan nasionalisme Arab segera menyebar dan disambut hangat sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Di India Pan-Islamisme juga tumbuh melalui pelopornya Sed Amir Ali (1848-1928). Namun gagasan ini segera tergantikan oleh gagasan nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme juga segera pudar, ini dikarenakan kaum muslimin ang minoritas tertekan oleh kelompok Hindu ang mayoritas. Maka umat islam di negara India tidak menganut nasionalisme, melainkan islamisme, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komunalisme. Dan di Indonesia partai politik besar yang menentang penjajahan di Indonesia adalah Sarekat Islam didirikan tahun 1912 oleh HOS Tjokroamionoto. Sarekat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhuditahun 1911. Tidak lama kemudian partai-partai politik lainnyapun mualai bermunculan, seperti PNI, PNI Baru, Permi.
Munculnya gagasan-gagasan untuk pembaharuan Islam yang
kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa partai politik merupakan modal
pertama yang dimiliki oleh umat Islam untuk mewujudkan negara yang bebas dari
pengaruh Negara-negara Eropa. Perjuangan nyata partai politik tersebut mereka
wujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam
bentuk diplomasi maupun bersenjata, dan pendidikan dan propaganda untuk
mempersiapkan masyarakat menyampbut dan mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan
negara mayoritas berpenduduk muslim pertama kali memproklamasikan kemerdekaan
adalah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdekan dari
pendudukan Jepang, setelah Jepang ditaklukkan oleh Tentara Sekutu dengan
ditandai dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki.
D. FASE RUNTUHNYA TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM ( SAFAWI, MUGHAL, DAN
TURKI USMANI )
Sebagaimana yang kita ketahui, puncak kemajuan yang di
capai oleh kerajaan usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni
( 1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas 1
(1588- 1628 M), dan puncak kemajuan kerajaan Mughal Pada masa sultan akbar
(1542-1605 M). Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut,
kerajaan-kerajaan mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses kemunduran
itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan Mughal, setelah
akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih di pegang oleh raja-raja besar,
yaitu Jehangir ( 1605-1628 M ), Syah Jehan (1628-1658 M ), dan Aurangzeb
(1658-1707 M). Ketiga Raja Mughal ini masih dapat mempertahankan kemajuan yang
di capai pada masa akbar. Baru setelah Aurangzeb, Kerajaan Mughal mengalami
kemunduran yang agak drastis. Kerajaan
ini berakhir pada tahun 1858 M.
1. Kemunduran Dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal
Abbas I karajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi
Mirza (1628-1542 M ), Abbas II (1642-1667 M ), Sulaiman (1667-1694 M), Husain
(1694-1722 M), Tahmasp II (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi
Kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang ,tetapi justru
memperlihatkan kemunduran yang khirnya membawa kepada kehancuran.
Safi
Mirza, cucu Abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam
terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya.Kemajuan yang
pernah di capai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar (sekarang
termasuk wilayah Afganistan) lepas dari Kerajaan Safawi, diduduki oleh Kerajaan
Mughal yang ketika itu di perintah olek Sultan Syah Jehan, sementara Bagdad direbut
oleh Kerajaan Usmani. Abbas II adalah raja yang suka minum minuman keras
sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian,dengan bantuan
wazir-wazirnya, pada masa Kota Qandahar dapat rebut kembali. Sebagaimana
Abbas II, Sulaiman jug seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para
pembesar yang dicurigainya. Akibatnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadsap
pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim.Pengganti Sulaiman ini
memberi kekuasaan yang besar kepada ulama syiah yang sering memakasa
pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni.Sikap ini membangkitkan kemarahan
golongan Sunni Afganistan,sehingga mereka brontak dan berhasil mengkhiri
keajaan safawi. Pemberontakan bangsa afgan tersebut terjadi pertama kali pada
tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilyah Qandahar. Pemberontakan
lainnya terjadi di Herat, Suku Ardabil Afganistan berhasil menduduki Mashad.
Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Ia berhasil
mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir
Mahmud berusaha memperluas wilayah kekuasaannnya dengan merebut negeri-negeri
Afganistan dari kekuasaan Safawi, ia bahkan berusaha menguasai Persia. Karena
desakan dan ancaman Mir Mahmud, Syah Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir
Mahmud dan mengangkatnya sebagai gubernur di Qandahar
dengan gelar Husein Quli khan (Budak Husein). Dengan pengakuan ini, Mir Mahmud
menjadi lebih berkuasa bergerak. Pada tahun 1721 M, ia dapat merebut
Kirman. Tak lama kemudian, ia dan pasukannya menyerang isfahan ,mengepungnya
selama enam bulan dan memaksa Syah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 oktober 1722 M, Syah
Husein menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota isfahan dengan penuh
kemenangan.
Salah
seorang putra Husein, bernama Tashmsp II, dengan penuh dukungan suku Qazar dari
Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia
dengan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan pusat
kekuasaannya di kota Astarabad. Pada tahun 1726 M Tahmsp II bekerja sama dengan Nadir
Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki
isfahan Asyraf, pengganti mir mahmud, yamg berkuasa di isfahan di
gempur dan di kalah kan oleh Nadir Khan Tahun 1729 M. Asyraf sendiri
terbunuh dalam peperangan itu. Dengan demikian, Dinasti safawi kembalai
berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M Tahmasp II di pecat oleh nadir
khan dan di gantikan oleh Abbas III( anak Tahmasp II) yang ketika itu masih
sangat kecil. Empat tahun setelah itu , tepat nya 8 maret 1736, Nadir Khan mengangkat
diri nya sebagai Raja menggatikan Abbas III. Dengan demikian, berakhirlah
Kekuasaan Dinasti Safawi Di Persia. Di antara sebab-sebab kemunduran
dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan
Kerajaan Usmani. Bagi kerajaan usmani, berdirinya kerajaan safawi yang
beraliran Syiah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaan nya. Konflik
antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak
ketika tercapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namun, tak lama kemudian, Abbas
meneruskan konflik tersebur, dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi
perdamaian anatara dua kerajaan besar islam itu.
Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian
para pemimpin Kerajaan Safawi. Ini menurut mempercepat proses kehancuran
kerajaan tersebut.Sulaiman disamping pecandu berat narkotika,juga menyenangi
kehidupan malam beserta herem-heremnya selama tujuh tahun tanpa sekali pun
menyempatkan diri menangani pemerintahan begitu juga Sultan Husein. Penyebab
penting lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang di bentuk oleh
Abbas I tidak memeiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizibash. Hal ini
di sebabkan karena pasukan tersebut tidak di siapkan secara terlatih dan tidak
melalui proses pendidikan rohani seperti yang di alami oleh Qizilbash. Sementara
itu anggota Qizilbash yang baru ternyata tidak memiliki milintasi dan semangat
yang sama denan anggota Qizilbash sebelumnya.
2. Kemunduran Dan Runtuhnya Kerajaan
Mughal
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal
berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggub
mempertahankan kebesaran yang telah di bina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada
abad ke 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan
politiknya mulai merosot, sukses kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang
perebutan, gerakan separatis hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan
islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para
pedagang inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan
modal di India,dengan dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai
wilayah pantai.
Pada masa Aurangzeb ,pemberontakan terhadap pemerintahan
pusat memang sudah muncul ,tetapi dapat di atasi. Pemberontakan itu bermula
dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran
puritanisnya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu
menghadapi problema yang di tinggalkannya.
Sepeninggal
Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan di pegang oleh Muazzam, putra tertua
Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini
kemudian bergelar Badahur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syiah. Pada
masa pemerintahannyang berjalan selama lima tahun ,ia dihadapkan pada
perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlalu memaksakan ajaran Syiah
kepada mereka.
Setelah badahur Syah meninggal ,dalam
jangka waktu yang cukup lama ,terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga
istana. Badhur Syah dig anti oleh anakny, Azimus syah. Akan tetapi, pemerintahaanya
di tentang oleh Zulfikar Khan, putra Azab khan, Wazir Aurangzeb. Azimus Syah
meninggal tahun 1712 M dan diganti oleh putranya, Jihandar
Syah dapat di singkiran oleh Farukh Siyar tahun 1713 M.
Farukh
syiar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok sayyid,
tapi tewas ditangan para pendukung nya sendiri (1719). Sebagai ganti nya, di
angkat Muhammad syah (1719 -1748 M ). Namun, ia dan pendukung terusir oleh suku
Asyfar dibawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya berhasil melenyapkan
kekuasaan safawi di Persia. Keinginannya menurutnya, kerajaan ini banyak sekali
memberikan bantuan kepada pemberontak afghan di daerah Persia. Oleh karena itu, pada tahun 1739 M,
2 tahun telah menguasai Persia ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammadsyah tidak
dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadirsyah. Muhammadsyah kembali
berkuasa di Delhi setelah dia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada
Nadirsyah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama
setelah jabatan wazir dipegang Chin Qilich kahn yang bergelar nizam Al–Mulk
(1722–1732 M) karena mendapat dukungan dari maratas. Akan tetapi, tahun 1732 M
Nizam Al – Mulk meninggalkan Delhi menuju Hiderabat dan menetap disana.
Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan
pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintah daerah satu–persatu melepaskan loyalitasnya
dari pemerintah pusat. Bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahnya masing–masing.
Hiderabad dikuasai Nizam Al–Mulk, maratas dikuasai oleh Shivaji, rajput
menyelenggarakan pemerintahan sendiri dibawah pimpinan Jay singh dari Amber,
Punjab dikuasai oleh kelompok sikh. Oudh dikuasai oleh sadat khan, Bengal
dikuasai Syuja’ aldin, menantu mursyid qulli, penguasa Bengal yang diangkat
Aurangzeb. Sementara wilayah – wilayah pnatai banyak dikuasai oleh pedagang–pedagang
asing , terutama EIC dari Inggris. Disintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini
semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas
terhadap pemerintah pusat juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi
eksistensi dinasti Mughal itu sendiri.
Setelah
Muhammadsyah meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Ahmad Syah (1748–1754)
kemudian, diteruskan oleh Alam Ghir II (1754–1759 M), dan kemudian dilanjutkan
oleh Syah Alam (1761–1806 M). Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan.
Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada dibawah kekuasaan
Afghan, meskipun Syah Alam tetap di izinkan memakai gelar sultan. Ketika Kerajaan
Mughal memasuki keadaan yang lemah seperi ini, pada tahun itu juga, pedagang
Inggris (EIC), yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah
Kerajaan Mughal. Peperangan belangsung berlarut-berlarut. Akhirnya Syah Alam
membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Qudhbengal, dan Orisa kepada
Inggris, sementara itu najib Al-Aulawajib Mughal dikalah kan oleh Oliasi Sikh
Hindu. Sehingga Delhi dikuasai Sindhia dari Marathas. Akan tetapi, Sindhia
dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Dinasti
Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya
pada tahun 1858 M, yaitu:
·
Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operassi militer
inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh kekuasaan
maritim Mughal. Begitu juga dalam mengoperasikan pasukan darat.
·
Kemerosotan
moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan
dalam penggunaan uang negara.
·
Pendekatan
Aurangzeb yang terlampau kasar, dalam melaksanakan ide-ide, puritan dan
kecenderungan asketisnya, shingga konflik antar agama sangat sukar di atasi
oleh sultan-sultan sesudah nya.
·
Semua pewaris
tahta kerajaan pada paru terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang
kepemimpinan.
3. Kemunduran Dan
Kehancuran Kerajaan Turki Usmani
Bangsa Turki tercatat dalam sejarah Islam dengan
keberhasilannya mendirikan dua dinasti yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Dinasti
Turki Usmani. Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan
nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon Bonaparte menduduki Mesir
pada tahun 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam
menjadi wilayah jajahan atau dibawah pengaruh Eropa. Akhirnya serangkaian kekalahan berjalan hingga memuncak
dengan jatuhnya dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh
kemjuan tekhnologi barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan
peranan penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh
pengusaha Usmani menjadi Pasya pada tahun 1805 dan memerintah Mesir hingga
tahun 1894
Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan.
Akan tetapi, saat itu terdapat kontroversial percetakan pertama yang didirikan
di Mesir ditentang oleh para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit
babi. Muhammad Ali Pasya mendirikan beberapa sekolah tekhnik dengan
guru-gurunya dari luar negaranya. Ia mengirim lebih dari 4000 pelajar ke Eropa
untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan
Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima
ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi
pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan
dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan
ilmu pengetahuan.
Orang-orang Turki Usmani dikenal sebagai bangsa yang
senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan bersikap terbuka terhadap
kebudayaaan luar. Para ilmuwan ketika itu tidak menonjol. Namun demikian,
mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa
bangunan-bangunan masjid yang indah seperti masjid Sultan Muhammad Al Fatih,
masjid Sulaiman, dan masjid Abu Ayub Al Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi
pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan
keindahan kaligrafinya adalah masjid yang awalnya berasalh dari gereja Aya
Sophia.
Islam dan kebudayaannya tidak hanya merupakan warisan
dari masa silam yang gemilang, namun juga salah satu kekuatan penting yang
cukup diperhitungkan dunia dewasa ini. Al Qur’an terus menerus dibaca dan
dikaji oleh kaum muslim. Budaya Islam pun tetap merupakan faktor pendorong
dalam membentuk kehidupan manusia di permukaan bumi.
Toleransi beragama merupakan salah satu kebudayaan Islam
dan tidak ada satupun ajaran Islam yang bersifat rasialisme. Dalam hal ini,
agama yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad mengandung amanat yang mendorong
kemajuan bagi seluruh umat manusia, khusunya umat Islam di dunia.
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah
oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri cina. Dalam jangka waktu
kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan irak. Mereka masuk islam sekitar abad kesembilan atau
kesepuluh, ketika mereka menetap di asia tengah. Di bawah tekanan
serangan-serangan mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke daerah
barat vdan mencari tempat pengungsian di tempat orang-orang turki saljuk, di
dataran tinggi asia kecil. Di sana di bawah pimpinan ertoghrul, mereka
mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II.Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289
M. kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra ertoghrul inilah yang
dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M
dan 1326 M. sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II
dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan
dengan kota Broessa. pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk
dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk kemudian terpecah-pecah dalam
beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan baerkuasa penuh
atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, jerajaan Usmani dinyatakan
beardiri. Penguasa pertama adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.
Setelah
Usman mengumumkan dirinya sebagai padisyah al usman tahun 699 H (1300 M),
setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluas. Ia menyerang daerah
perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemujdian, pada
tahun 1326 M dijadikan sebagai ibbu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan
Orkhan kerajaan Turki Usmani dapat menaklukkan Azmir tahun 1327 M, Thawasyanli
(1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah
ini adalah bagian benua Eropa yang bpertama kali diduduki kerajaan Usmani.
Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain
memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua
Eropa. Ia dapat menaklukkan
Adrianopel, Macedonia, sopia, salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.
Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, paus
mengorbankan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan
untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja
Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murad I, dapat
menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut.Ekspansi kerajaan Usmani
sempat terhenti beberapa lama. Ketika
ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk
melakukan serangan ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara
Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan
wafat dalam tawanan tahun 1403 M.Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat
buruk bagi Turki Usmani. Penguaasa-pengyasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan
diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga
memproklamasikan kemerdekaann. Pada waktu itu pputra-putra Bayazid saling
berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I
(1403-1421 M) dapat mengatasinya.
Setelah
Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesulitan-kesulitan Mongol dipecah dan
dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh
penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada
saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid
(Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebuutan kekuasaan
terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha
Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan
dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Muerad II
(1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa
Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M). Sultan Muhammad
Al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453
M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan
Bizantium, lebih memudahkan ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi
ketika Sultan Salim I naik tahta, ia mengalihkan perhatiannya ke arah timur
dengan menaklukkan Persia, Syiria, dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan
Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Setelah sultan
meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya, yang
menyebabkann kerajaan Turki usmani mundur. Akan tetapi, meskipun mengalami
kemunduran,
Kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang
sebagai Negara yang kuat terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang
masih bertahan lima abad lagi setelah itu.
Kemajuan Dan
perkembangan Ekspansi Kerajaan Turki Usmani
1. Bidang Kemiliteran
dan Pemerintahan
2. Bidang Ilmu
Pengetahuan dan Budaya
3. Bidang Keagamaan
BAB III
PENUTUP
I.
Kesimpulan
Sebagaimana telah kita ketahui, puncak kemajuan yang di
capai oleh kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni
(1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas 1
(1588- 1628 M), dan puncak kemajuan Kerajaan Mughal. Pada masa Sultan Akbar
(1542-1605 M). Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut,
kerajaan-kerajaan mulai mengalami kemunduran. Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi
berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1542 M), Abbas
II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II
(1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi Kerajaan Safawi tidak
menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran
yang khirnya membawa kepada kehancuran.
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal
berada di puncak kejayaan nya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggub
mempertahankan kebesaran yang telah di bina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada
abad ke 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya
mulai merosot, sukses kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan,
gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di
bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggris
untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan
dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai. Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz
yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu
kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak.
II.
Saran
Dengan
penyusunan makalah ini hendaknya kita mengetahui dan memahami bagaimana
perkembangan kebudayaan islam pada masa modern. Untuk penyempurnaan makalah ini
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi
penyempurnaan karya ilmiah ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Maryam,Siti. Sejarah
Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. 2002.
Yogakarta: LESFI
Yatim, Badri. Sejarah
Peradaban Islam Dirasah Islamiah II. 1995. Jakarta : P.T. Raja Graffindo.
Ahmad Syalabi.
1982. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka al Husna.
Fakih, Aunur Rahim. Pemikiran
dan Peradaban Islam. 1998. Yogakarta : UII Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar