Kamis, 16 Mei 2013

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM MODERN



Makalah Agama
"PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN
ISLAM MODERN"
                

Disusun Oleh :


KELOMPOK 2
Bani Arjuwati
Nurfajri Triyendra
Syaijiba Fazkia Fitri
Tiara Putri Tasya
Teguh Gema Genta
Viona Ganesha

Pembimbing:
Dra.Arsiah S.Ag

SMA N 1 KOTA SOLOK


DAFTAR ISI


Kata Pengantar ………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN
A.                Latar belakang .................................................................................................................
B.                 Tujuan ..............................................................................................................................

BAB II TEORI PEMBAHASAN
A.                Awal babakan baru kebudayaan islam modern ………………………………………..
B.                 Kemunduran negara – Negara islam…………………………………………………..
C.                 Kebangkitan Negara – Negara islam periode modern ………………………………..
D.                Fase runtuhnya tiga kerajaan islam …………………………………………………..
1.                  Kemunduran dan kehancuran kerajaan safawi ……………………………….
2.                  Kemunduran dan runtuhnya kerajaan mughal ……………………………….
3.                  Kemunduran dan kehancuran kerajaan turki usmani ………………………..

BAB III PENUTUP
A.                Kesimpulan ...................................................................................................................
B.                 Saran .............................................................................................................................

Daftar Pustaka ......................................................................................................................... 


KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul "perkembangan kebudayaan islam pada masa modern" dan dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas agama serta untuk mempersentasikan kebudayaan islam pada masa modern.
Semua bantuan dan kerja sama yang telah diberikan agar mendapat balasan yang setimpal dari Allah. Penulis menyadari karya ilmiah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi penyempurnaan karya ilmiah ini dimasa yang akan datang.
Terakhir peneliti mengucapkan terima kasih semoga tulisan atau karya ilmiah ini dapat bermamfaat bagi peneliti dan pembacanya.







BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Makalah  ini dibuat untuk melengkapi tugas agama serta untuk mempersentasikan perkembangan kebudayaan islam pada masa modern. Makalah ini juga dilatarbelakangi untuk memenuhi pembelajaran agam untuk memperluas pengetahuan mengenai perkembangan kebudayaan islam pada masa modern.

2.      Tujuan
Secara garis besar, makalah ini akan membahas bagaimana pekembangan islam modern,yang akan diterangkan dengan poin – poin sebagai berikut :
1.                  Awal babakan baru kebudayaan islam modern
2.                  Kemunduran negara – Negara islam
3.                  Kebangkitan Negara – Negara islam periode modern
4.                  Fase runtuhnya tiga kerajaan islam
a.                   Kemunduran dan kehancuran kerajaan safawi
b.                  Kemunduran dan runtuhnya kerajaan mughal
c.                   Kemunduran dan kehancuran kerajaan turki usmani






BAB II
PEMBAHASAN

A.  AWAL BABAKAN BARU KEBUDAYAAN ISLAM MODERN
Masa kebangkitan umat Islam pada periode modern dimulai pada sekitar abad ke-19 atau sekitar tahun 1800 M, yang ketika itu sebagian besar bangsa-bangsa Eropa sedang mendominasi di dunia. Pada abad ke-19 dan awal abad ke 20, dikarenakan oleh kebutuhan ekonomi industri terhadap bahan baku dan pemasarannya, serta kompetisi politik dan ekonomi satu sama lain, maka Negara-Negara Eropa mendirikan kerajaan territorial. Pertumbuhan poduksi pabrik perubahan pada skala yang besar serta dengan menggunakan metode komunikasi dan kekuatan angkatan bersenjatanya, Negara-negara Eropa siap melakukan ekspansi perdagangan. Negara Aljazair merupakan negara pertama yang ditaklukan oleh salah satu negara Eropa, yaitu Perancis pada tahun 1830-1847. Kerajaan Usmani, yang merupakan salah satu negeri Islam dan masyarakat serta kebudayaannya pada waktu itu tidak hidup dalam keadaan stabil, sehingga sehingga keperluan mereka yang mendesak adlah bagaimana menggerakkan kekuatan agar selamat dari dominasi bangsa lain.

Agama dan kebudayaan baru hukum islam terus dipertahankan, pemikiran barupun semakin bermunculan yang mencoba menjelaskan sebab- sebab kekuatan Eropa, disamping itu juga menghimbau agar mengadopsi ide-ide Eropa tanpa kehilangan dan identitas diri. Yang sebagian itu diekspresikan oleh para lulusan sekolah yang dibangun oleh pemerintah baru tersebut atau misionaris asing melalui media massa seperti surat kabar ataupun jurnal. Setelah kemunduran kerajaan Usmani, terangkatlah perekonomian sarta penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Negara-negara Eropa. Sementar itu kemerosotan kaum muslimin tidak terbatas dalam bidang ilmu dan kebudayaan saja, tetapi juga di berbagai bidang. Dalam perkembangan selanjutnya Negara-negara Eropa banyak menguasai daerah-daerah Islam.

B.      KEMUNDURAN NEGARA-NEGARA ISLAM
         Eropa di awal kebangkitannya menghadapi banyak sekali tantangan, terutama dari Negara-negara islam, terutama kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. kemudian setelah beberapa tahun Negara-negara Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang di kuasai Islam bidang perekonomian bangsa- bangsa Eropa semakin maju dengan dibukanya daerah-daerah baru. Mulailah kemudian kemajuan negara-negara Eropa melampaui kemajuan Negara-negara Islam yang sejak lama menagalami kemunduran. Dan kemajuan yang diperoleh oleh negara -negara Eropa tersebut dipercepat dengan penemuan-penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Satu demi satu Negara-negara Islam pun jatuh dibawah kekuasaan Negara-negara Eropa. Terutama negeri-negeri yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi meskipun Kerajaan Usmani telah banyak kehilangan wilayahnya, Negara-negara Eropa masih segan dan dipandang cukup kuat dalam bidang militernya. Namun kekalahan besar Kerajaan Usmani tahun 1683, membuka mata bahwa Kerajaan Usmani telah mundur jauh sekali. Sejak itulah kerajaan Usmani banyak mendapat serangan dari Negara-negara Eropa. Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajauan setelah penghalang pembaharuan, yaitu Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada tahun 1826. Dan struktur kekuasaan kerajaan dirubah, banyak lembaga pendidikan modern didirikan, buku – buku barat banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, dan pengiriman siswa berbakat ke Eropa, serta pendirian sekolah militer. Perubahan tersebut tidak hanya dilakukan di dalam Kerajaan Usmani saja tetapi juga di berbagai negara yang telah di kuasai oleh Negara-negara Eropa. Misalnya saja di negara Mesir, di Kairo yang merupakan ibukota negara Mesir sepeninggalan tentara Perancis, kekuasaan diambilalih oleh Muhammad Ali (1805 – 1848) seorang yang berkebangsaan Turki dari Macedonia yang dikirim oleh Kerajaan Usmani untuk melawan Perancis. Dia sendiri mengumpulkan kekuatan penduduk kota,
                       
Dari uraian diatas, telah jelas bahwa negara-negara Islam pada abad ke-19 dan ke-20 hampir seluruhnya berada di bawah koloni negara-negara Eropa, kecuali Hijaz, Persia, dan Afganistan. Sedangkan negara-negara di wilayah timur khususnya Afrika bagian Timur dan Asia oleh negara-negara Eropa dijadikan sebagai lahan untuk diambil bahan bakunya untuk industri. Tetapi tidak nampaknya negara Spanyol dan Portugal dalam ekspansinya di wilayah Negara-negara Islam mungkin dikarenakan kedua negara ini masih mengingat peristiwa yang telah terjadi, yakni Perang Salib.

C. KEBANGKITAN NEGARA-NEGARA ISLAM PERIODE MODERN
Ekspansi yang telah dilakukan oleh Negara-negara Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka sangat tertinggal jauh dari Negara-negara Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Negara-negara Eropa bisa menjajah karena keberhasilan mereka menerapkan sratetegi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mereka miliki. Pada satu sisi kekuatan militer dan politik Negara-negara Islam menurun, perekonomian yang merosot yang merupakan akibat dari monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi mereka kendalikan. Di sisi lain Negara-negara Eropa pada waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang membebaskan diri mereka dari ikatan-ikatan gereja. Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan dan Benua Amerika. Usaha yang dilakukan negara – negara Islam melalui gerakan pembaharuan, didorong oleh beberapa faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran-ajaran Islam dari unsure-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan belajar gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Negara-negara Eropa. Salah seorang tokoh pemikir gerakan kemerdekaan yang bernama Sayyed Jamaluddin Al Afghani yang berasal dari Afganistan, ia memperkenalkan hasil pemikirannya itu yang bernama Pan-Islamisme, yang sebelumnya didengungkan oleh gerakan Wahhabiah dan Sanisiyah, artinya solidaritas antara seluruh muslim di dunia internasional. Ajaran inilah kemudian banyak digunakan oleh para pemikir pembaharuan di dunia Islam. Tetapi gagasan Pan-Islamisme lama kelamaan meredup setelah terjadinya Perang Dunia I, yang mana pada waktu itu Turki bersekutu dengan Jerman dan mengalami kekalahan. Maka setelah itu muncullah gagasan baru yang bernama gagasan nasionalisme. Gagasan ini pada permulaannya banyak mendapat tentangan dari berbagai pihak dari pemuka-pemuka islam karena tidak sejalan dengan semangat ukhuwah islamiyah, tetapi setelah itu berkembanglah gagasan nasionalisme.
            Diberbagai negara misalnya, gagasan nasionalisme di Mesir telah tumbuh sejak masa Al Tahtawi (1801-1873) dan Jamaluddin Al Afghani. Tetapi tokoh yang terkenal dalam pergerakan memperjuangklan gagasan ini di Mesir ialah Ahmad Urabi Pasha. Sedangkan di Arab sendiri gagasan nasionalisme Arab segera menyebar dan disambut hangat sehingga nasionalisme terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Di India Pan-Islamisme juga tumbuh melalui pelopornya Sed Amir Ali (1848-1928). Namun gagasan ini segera tergantikan oleh gagasan nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme juga segera pudar, ini dikarenakan kaum muslimin ang minoritas tertekan oleh kelompok Hindu ang mayoritas. Maka umat islam di negara India tidak menganut nasionalisme, melainkan islamisme, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komunalisme. Dan di Indonesia partai politik besar yang menentang penjajahan di Indonesia adalah Sarekat Islam didirikan tahun 1912 oleh HOS Tjokroamionoto. Sarekat Islam sendiri merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhuditahun 1911. Tidak lama kemudian partai-partai politik lainnyapun mualai bermunculan, seperti PNI, PNI Baru, Permi.

Munculnya gagasan-gagasan untuk pembaharuan Islam yang kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa partai politik merupakan modal pertama yang dimiliki oleh umat Islam untuk mewujudkan negara yang bebas dari pengaruh Negara-negara Eropa. Perjuangan nyata partai politik tersebut mereka wujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun bersenjata, dan pendidikan dan propaganda untuk mempersiapkan masyarakat menyampbut dan mengisi kemerdekaan itu sendiri. Dan negara mayoritas berpenduduk muslim pertama kali memproklamasikan kemerdekaan adalah Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdekan dari pendudukan Jepang, setelah Jepang ditaklukkan oleh Tentara Sekutu dengan ditandai dibomnya kota Hiroshima dan Nagasaki.

D. FASE RUNTUHNYA TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM ( SAFAWI,  MUGHAL, DAN TURKI USMANI )
Sebagaimana yang kita ketahui, puncak kemajuan yang di capai oleh kerajaan usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni ( 1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas 1 (1588- 1628 M), dan puncak kemajuan kerajaan Mughal Pada masa sultan akbar (1542-1605 M). Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan-kerajaan mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi, proses kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Di Kerajaan Mughal, setelah akbar, untuk beberapa lama pemerintahan masih di pegang oleh raja-raja besar, yaitu Jehangir ( 1605-1628 M ), Syah Jehan (1628-1658 M ), dan Aurangzeb (1658-1707 M). Ketiga Raja Mughal ini masih dapat mempertahankan kemajuan yang di capai pada masa akbar. Baru setelah Aurangzeb, Kerajaan Mughal mengalami kemunduran yang agak drastis. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1858 M.

1.     Kemunduran Dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I karajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1542 M ), Abbas II (1642-1667 M ), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi Kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang ,tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang khirnya membawa kepada kehancuran.

Safi Mirza, cucu Abbas I, adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya.Kemajuan yang pernah di capai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar  (sekarang termasuk wilayah Afganistan) lepas dari Kerajaan Safawi, diduduki oleh Kerajaan Mughal yang ketika itu di perintah olek Sultan Syah Jehan, sementara Bagdad direbut oleh Kerajaan Usmani. Abbas II adalah raja yang suka minum minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian,dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masa Kota Qandahar dapat  rebut kembali. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman jug seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadsap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim.Pengganti Sulaiman ini memberi kekuasaan yang besar kepada ulama syiah yang sering memakasa pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni.Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan,sehingga mereka brontak dan berhasil mengkhiri keajaan safawi. Pemberontakan bangsa afgan tersebut terjadi pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilyah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Herat, Suku Ardabil Afganistan berhasil menduduki Mashad. Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Ia berhasil mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir Mahmud berusaha memperluas wilayah kekuasaannnya dengan merebut negeri-negeri Afganistan dari kekuasaan Safawi, ia bahkan berusaha menguasai Persia. Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud, Syah Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud  dan mengangkatnya sebagai gubernur  di Qandahar dengan gelar Husein Quli khan (Budak Husein). Dengan pengakuan ini, Mir Mahmud menjadi lebih berkuasa bergerak. Pada tahun 1721 M, ia dapat  merebut Kirman. Tak lama kemudian, ia dan pasukannya menyerang isfahan ,mengepungnya selama enam bulan dan memaksa Syah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 oktober 1722 M, Syah Husein menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota isfahan dengan penuh kemenangan.

Salah seorang putra Husein, bernama Tashmsp II, dengan penuh dukungan suku Qazar dari Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasaannya di kota Astarabad. Pada tahun 1726 M Tahmsp II bekerja sama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki isfahan  Asyraf, pengganti mir mahmud, yamg berkuasa di isfahan  di gempur dan di kalah kan oleh Nadir Khan  Tahun 1729 M. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Dengan demikian, Dinasti safawi kembalai berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M Tahmasp II di pecat oleh nadir khan dan di gantikan oleh Abbas III( anak Tahmasp II) yang ketika itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu , tepat nya 8 maret 1736, Nadir Khan mengangkat diri nya sebagai Raja menggatikan Abbas III. Dengan demikian, berakhirlah Kekuasaan Dinasti Safawi  Di Persia. Di antara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi  ialah konflik berkepanjangan dengan Kerajaan Usmani. Bagi kerajaan usmani, berdirinya kerajaan safawi yang beraliran Syiah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaan nya. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namun, tak lama kemudian, Abbas meneruskan konflik tersebur, dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi perdamaian anatara dua kerajaan besar islam itu.

Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin Kerajaan Safawi. Ini menurut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut.Sulaiman disamping pecandu berat narkotika,juga menyenangi kehidupan malam beserta herem-heremnya selama tujuh tahun tanpa sekali pun menyempatkan diri menangani pemerintahan begitu juga Sultan Husein. Penyebab penting lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang di bentuk oleh Abbas I tidak memeiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizibash. Hal ini di sebabkan karena pasukan tersebut tidak di siapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani seperti yang di alami oleh Qizilbash. Sementara itu anggota Qizilbash yang baru ternyata tidak memiliki milintasi dan semangat yang sama denan anggota Qizilbash sebelumnya.

2.     Kemunduran Dan Runtuhnya Kerajaan Mughal
Setelah  satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggub mempertahankan kebesaran yang telah di bina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke 18 M kerajaan ini memasuki  masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, sukses kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India,dengan dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb ,pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul ,tetapi dapat di atasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanisnya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang di tinggalkannya.
Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan di pegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Badahur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syiah. Pada masa pemerintahannyang berjalan selama lima tahun ,ia dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlalu memaksakan ajaran Syiah kepada mereka.
Setelah badahur Syah meninggal ,dalam jangka waktu yang cukup lama ,terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. Badhur Syah dig anti oleh anakny, Azimus syah. Akan tetapi, pemerintahaanya di tentang oleh Zulfikar Khan, putra Azab khan, Wazir Aurangzeb. Azimus Syah meninggal tahun  1712 M dan diganti oleh putranya, Jihandar Syah  dapat di singkiran oleh Farukh Siyar tahun 1713 M.

Farukh syiar berkuasa sampai tahun 1719 M  dengan dukungan kelompok sayyid, tapi tewas ditangan para pendukung nya sendiri (1719). Sebagai ganti nya, di angkat Muhammad syah (1719 -1748 M ). Namun, ia dan pendukung terusir oleh suku Asyfar dibawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya berhasil melenyapkan kekuasaan safawi di Persia. Keinginannya menurutnya, kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak afghan di daerah Persia. Oleh karena itu, pada tahun 1739 M, 2 tahun telah menguasai Persia ia menyerang kerajaan Mughal. Muhammadsyah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadirsyah. Muhammadsyah kembali berkuasa di Delhi setelah dia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadirsyah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang Chin Qilich kahn yang bergelar nizam Al–Mulk (1722–1732 M) karena mendapat dukungan dari maratas. Akan tetapi, tahun 1732 M Nizam Al – Mulk meninggalkan Delhi menuju Hiderabat dan menetap disana.
                                                              
Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintah daerah satu–persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat. Bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahnya masing–masing. Hiderabad dikuasai Nizam Al–Mulk, maratas dikuasai oleh Shivaji, rajput menyelenggarakan pemerintahan sendiri dibawah pimpinan Jay singh dari Amber, Punjab dikuasai oleh kelompok sikh. Oudh dikuasai oleh sadat khan, Bengal dikuasai Syuja’ aldin, menantu mursyid qulli, penguasa Bengal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah – wilayah pnatai banyak dikuasai oleh pedagang–pedagang asing , terutama EIC dari Inggris. Disintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksistensi dinasti Mughal itu sendiri.

Setelah Muhammadsyah meninggal, tahta kerajaan dipegang oleh Ahmad Syah (1748–1754) kemudian, diteruskan oleh Alam Ghir II (1754–1759 M), dan kemudian dilanjutkan oleh Syah Alam (1761–1806 M). Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan. Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada dibawah kekuasaan Afghan, meskipun Syah Alam tetap di izinkan memakai gelar sultan. Ketika Kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperi ini, pada tahun itu juga, pedagang Inggris (EIC), yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah Kerajaan Mughal. Peperangan belangsung berlarut-berlarut. Akhirnya Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Qudhbengal, dan Orisa kepada Inggris, sementara itu najib Al-Aulawajib Mughal dikalah kan oleh Oliasi Sikh Hindu. Sehingga Delhi dikuasai Sindhia dari Marathas. Akan tetapi, Sindhia dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M, yaitu:
·         Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operassi militer inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh kekuasaan maritim Mughal. Begitu juga dalam mengoperasikan pasukan darat.
·         Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
·         Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar, dalam melaksanakan ide-ide, puritan dan kecenderungan asketisnya, shingga konflik antar agama sangat sukar di atasi oleh sultan-sultan sesudah nya.
·         Semua pewaris tahta kerajaan pada paru terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.

3.   Kemunduran Dan Kehancuran Kerajaan Turki Usmani
Bangsa Turki tercatat dalam sejarah Islam dengan keberhasilannya mendirikan dua dinasti yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Dinasti Turki Usmani. Di dunia Islam, ilmu pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon Bonaparte menduduki Mesir pada tahun 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau dibawah pengaruh Eropa. Akhirnya serangkaian kekalahan berjalan hingga memuncak dengan jatuhnya dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh kemjuan tekhnologi barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peranan penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh pengusaha Usmani menjadi Pasya pada tahun 1805 dan memerintah Mesir hingga tahun 1894

Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan. Akan tetapi, saat itu terdapat kontroversial percetakan pertama yang didirikan di Mesir ditentang oleh para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi. Muhammad Ali Pasya mendirikan beberapa sekolah tekhnik dengan guru-gurunya dari luar negaranya. Ia mengirim lebih dari 4000 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan.
Orang-orang Turki Usmani dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan bersikap terbuka terhadap kebudayaaan luar. Para ilmuwan ketika itu tidak menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah seperti masjid Sultan Muhammad Al Fatih, masjid Sulaiman, dan masjid Abu Ayub Al Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang awalnya berasalh dari gereja Aya Sophia.

Islam dan kebudayaannya tidak hanya merupakan warisan dari masa silam yang gemilang, namun juga salah satu kekuatan penting yang cukup diperhitungkan dunia dewasa ini. Al Qur’an terus menerus dibaca dan dikaji oleh kaum muslim. Budaya Islam pun tetap merupakan faktor pendorong dalam membentuk kehidupan manusia di permukaan bumi.

Toleransi beragama merupakan salah satu kebudayaan Islam dan tidak ada satupun ajaran Islam yang bersifat rasialisme. Dalam hal ini, agama yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad mengandung amanat yang mendorong kemajuan bagi seluruh umat manusia, khusunya umat Islam di dunia.

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan irak. Mereka masuk islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di asia tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat vdan mencari tempat pengungsian di tempat orang-orang turki saljuk, di dataran tinggi asia kecil. Di sana di bawah pimpinan ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II.Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan baerkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, jerajaan Usmani dinyatakan beardiri. Penguasa pertama adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.

Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai padisyah al usman tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluas. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemujdian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibbu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan kerajaan Turki Usmani dapat menaklukkan Azmir tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang bpertama kali diduduki kerajaan Usmani. Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel, Macedonia, sopia, salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, paus mengorbankan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut.Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguaasa-pengyasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaann. Pada waktu itu pputra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya.

Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesulitan-kesulitan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebuutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Muerad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M). Sultan Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih memudahkan ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan Salim I naik tahta, ia mengalihkan perhatiannya ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syiria, dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Setelah sultan meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya, yang menyebabkann kerajaan Turki usmani mundur. Akan tetapi, meskipun mengalami kemunduran,

Kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai Negara yang kuat terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu.

Kemajuan Dan perkembangan Ekspansi Kerajaan Turki Usmani
1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
2. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
3. Bidang Keagamaan

           

          
BAB III
PENUTUP

       I.            Kesimpulan

Sebagaimana telah kita ketahui, puncak kemajuan yang di capai oleh kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M), puncak kemajuan Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas 1 (1588- 1628 M), dan puncak kemajuan Kerajaan Mughal. Pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M). Setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan-kerajaan mulai mengalami kemunduran. Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1542 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi Kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang khirnya membawa kepada kehancuran.

Setelah  satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaan nya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggub mempertahankan kebesaran yang telah di bina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, sukses kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai. Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak.

    II.            Saran

Dengan penyusunan makalah ini hendaknya kita mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan kebudayaan islam pada masa modern. Untuk penyempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi penyempurnaan karya ilmiah ini dimasa yang akan datang.





DAFTAR PUSTAKA

Maryam,Siti. Sejarah Peradaban IslamDari Masa Klasik Hingga Modern. 2002. Yogakarta: LESFI
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiah II. 1995. Jakarta : P.T. Raja Graffindo.
Ahmad Syalabi. 1982. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka al Husna.
Fakih, Aunur Rahim. Pemikiran dan Peradaban Islam. 1998. Yogakarta : UII Press














Tidak ada komentar:

Posting Komentar